Towani Tolotang : Salah Satu Agama Asli Nusantara dari Sulawesi Selatan

Towani Tolotang (Tolottang, atau Tolotang) adalah salah satu komunitas yang temasuk agama lokal yang telah bertahan lama di Sidendreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan. Pemeluk kepercayaan ini hidup dan berkembang seiring dengan waktu dan berbaur dengan pemeluk kepercayaan lain. Eksistensi keberadaannya di tengah-tengah masyakarat Islam tidak membuatnya berkurang justru meningkat setiap tahunnya (mengingat Sidendreng Rappang adalah daerah Bugis). Upacara-upacara tradisional yang kental dengan ciri khas pemeluknya menjadi tanda kekhasan komunitas-komunitas dalam agama lokal yang masih bertahan. Karena upacara tradisional di Sulawesi Selatan yang masih sering dilaksanakan adalah berkisar pada lingkaran hidup (life cycle) seperti upacara aqiqah, perkawinan, sunatan dan kematian (https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/).

Sejarah panjang Tolotang membuat penganutnya bersikap tertutup. Alkisah, jauh sebelum Islam menyebar luas di Sulawesi Selatan, orang-orang Tolotang beranak pinak. Mereka percaya kepada Dewata Seuwae (Tuhan) bergelar Patotoe sebagai Yang Menentukan Takdir. Kitab sucinya, Lontara. Sayang, kebakaran besar pada 1950-an di Amparita menghanguskan kitab-kitab tersebut ( https://lokadata.id/ ).

Sejarah Tolotang

Awal mulanya kepercayaan Towani Tolotang berasal dari Wajo. Pada abad ke-17 raja Wajo yang bernama Petta Mattoas memeluk Agama Islam, beliau memerintahkan semua masyarakatnya agar masuk ke dalam Islam. Bagi yang tidak mau masuk ke agama Islam, diusir dari Wajo sehingga komunitas Towani Tolotang tersebar hingga sampai ke Amparita, Kanyuara, Otting, dan Dongi. Namun, komunitas ini mayoritas bermukim di Amparita. Pengetahuan tentang Tuhan yang disembah sejak dulu telah ada sebelumnya, dimana Tuhan yang mereka sebut sebagai puang dan pundewa (dewa).

Istilah Towani Tolotang terdiri dari Towani dan Tolotang. Towani berasal dari kata Tau yang berarti orang dan wani adalah nama sebuah Kelurahan, sehingga ToUwani berarti orang dari Kelurahan “wani”. Tolotang berasal dari kata Tau yang berarti orang dan Lautang yang berarti selatan, sehingga Tolotang berarti orang Selatan jadi, Towaani Tolotang adalah orang-orang yang berasal dari Kelurahan Wani yang tinggal di sebelah Selatan, maksudnya sebelah selatan Amparita.

Selain masalah diatas, pada tahun 1966 masalah lain, ketika pemerintah tidak mengakui agama yang dipeluk oleh kelompok masyarakat. Pada saat itu pemerintah hanya mengakui lima agama, yakni Islam, Katolik, Protestan, Hindu, dan Buddha. Pemerintah kemudian memberi tiga pilihan kepada warga Tolotang. Secara administratif, apakah mereka akan dikategorikan ke dalam Islam, Kristen, atau Hindu, karena menurut pemerintah tiga agama tersebut dekat dengan kepercayaan Tolotang (https://id.wikipedia.org/).

Berdasarkan hasil kesepakatan, dipilihlah Hindu. Surat keputusan Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Dirjen Bimas) Hindu No. 2/1966 menjadi penyelamat. Sejak itu, secara resmi komunitas ini menganut Hindu. Namun, pada praktiknya, mereka tetap melaksanakan adat istiadat dan memeluk keyakinan yang telah mereka warisi secara turun-temurun (tidak seperti Hindu Bali pada umumnya).

Baca Juga :  Beas Perelek, Cara Budaya Sunda Mengatasi Ketersediaan Pangan

Meski telah memilih Hindu, tradisi dan ritual keagamannya masih mengikuti ajaran leluhur (tidak mengikuti Hindu Bali). Mereka pun menahbiskan diri sebagai sekte Hindu dan tetap menolak memiliki pura (seperti di Bali) sebagai tempat ibadah.

Ajaran dan Ritual Tolotang

Ajaran Tolotang bertumpu pada lima keyakinan, yaitu:

  • Percaya adanya Dewata SeuwaE, yaitu keyakinan adanya Tuhan Yang Maha Esa.
  • Percaya adanya hari kiamat yang menandai berakhirnya kehidupan di dunia.
  • Percaya adanya hari kemudian, yakni dunia kedua setelah terjadinya kiamat
  • Percaya adanya penerima wahyu dari Tuhan
  • Percaya kepada Lontara sebagai kitab suci Tolotang

Dalam masyarakat Tolotang sendiri terdapat dua kelompok, yaitu Masyarakat Benteng (Orang Tolotang yang sudah pindah ke Agama Islam), dan Masyarakat Towani Tolotang (komunitas yang masih menganut agama Tolotang). Kedua kelompok ini memiliki tradisi yang berbeda dalam beberapa prosesi keagamaan, misalnya dalam prosesi kematian dan pesta pernikahan. Bagi komunitas Benteng, tata cara prosesi pernikahan dan kematian sama seperti tata cara yang dilakukan dalam agama Islam pada umumnya (https://id.wikipedia.org/).

Bagi Komunitas Towani Tolotang, prosesi kematian, melalui prosesi memandikan jenazah yang kemudian membungkus dan melapisinya dengan menggunakan daun sirih. Sedangkan untuk prosesi pernikahan Kelompok Towani Tolotang melaksanakannya di hadapan Uwatta, atau pemimpin ritual yang masih merupakan keturunan langsung dari pendiri Towani Tolotang.

Orang Tolotang melakukan ritual Sipulung sebagai perayaan terbesar keagamaan. Sipulung bak Natal bagi umat Kristiani atau Lebaran bagi Muslim. Penganut Tolotang dari seluruh penjuru dunia akan pulang dan berkumpul di Perrinyameng, makam I Pabbere.

Bagi Masyarakat Towani Tolotang, ritual Sipulung yang dilaksanakan sekali dalam setahun mengambil tempat di Perrynyameng yang merupakan lokasi kuburan I Pabbere. Kelengkaplan ritual masyarakat Towani Tolotang, mereka diwajibkan membawa sesajian berupa nasi dan lauk pauk, yang diyakini sebagai bekal di hari kemudian.

Musyawarah dan Mempertahankan Wari

Musyawarah sudah menjadi tradisi bagi orang Tolotang. Bahkan, keputusan mengenai ritual Sipulung–yang dilakukan sekali setahun–harus diambil lewat musyawarah para tetua adat. Sipulung terjadi pada tiap Januari. Musyawarah tinggal menentukan tanggalnya saja.

Meski ritual itu tertutup, bukan berarti tidak boleh dikunjungi. Orang luar hanya boleh melihat ke beberapa lokasi. Begitu pun, ada ritual yang tak boleh diabadikan. Tindakan ini mereka lakukan karena menghargai pengorbanan leluhur, selain memang tempat dimaksud sakral.

Orang Tolotang masih teguh mempertahankan wari‘ (tatanan) dalam kehidupannya. Meski sempat dibenci dan nyaris dimusnahkan, mereka bisa menerima hidup di tengah mayoritas Muslim. Sejak ikut Hindu, penganut Tolotang telah mendapatkan semua haknya sebagai warga negara (https://lokadata.id/). 

Negara telah Mengakui Agama Kepercayaan

Kita tahu Negara kini telah mengakui penghayat kepercayaan sebagai bagian dari agama-agama di Indonesia. Hal ini sesuai dengan keputusan MK (Mahkama Konstitusi) pada tahun 2017 lalu (baca: https://nasional.kompas.com/).

Baca Juga :  Mengenal Rumah Adat Kajang Lako di Bumi Melayu

Lalu bagaimana dengan Tolotang ? Ketika saat ini negara telah mengakui keyakinan leluhur dan memiliki posisi sama dengan agama lain, orang-orang Tolotang belum berpikir meninggalkan Hindu. Mereka punya utang budi dan perjanjian yang tidak mungkin diingkari.

Keteguhan hati tak meninggalkan Hindu ini sejalan dengan filosofi hidup mereka, yakni munimi tauko kudema tappe. Artinya, biar takut tapi tidak yakin. “Kami masih yakin bersama Hindu, kecuali mereka yang meninggalkan kami,” kata Sunarto atau akrab dipanggil Uwa Narto. Yang merupakan tokoh ada dan juga ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Sidrap, (https://lokadata.id/).

Perjuangan penghayat Tolotang saat ini bukan lagi pada soal pengakuan sebagai agama negara. Mereka memilih merawat tradisi dan menjaga agar keturunannya tetap teguh. Masalah pendidikan pun seakan tak ada habisnya. Anak-anak memang mendapat pelajaran Hindu di sekolah bahkan mendapat kesempatan hingga perguruan tinggi. Tapi mereka ingin diajarkan/diberi pendidikan Hindu Tolotang sebagaimana yang mereka inginkan.

Harus dua kali mengajar anak-anak Tolotang soal agama agar bisa bertahan. Di luar jam sekolah, mereka tetap mengajarkan ajaran Tolotang yang diwahyukan kepada I Pabbere, seorang perempuan yang mengajarkan peradaban kepada mereka.

————————-

Hal ini yang selalu menjadi tantangan untuk pemangku kebijakan, baik dari pemerintah ataupun dari lembaga Hindu itu sendiri, bagaimana memberikan pendidikan yang tanpa menghilangkan ritual, budaya, dan tatacara dari kepercayaan yang sudah ada. Meskipun kita tahu bahwa filsafatnya adalah sama hanya cara yang berbeda.

Artikel lainnya terkait perkembangan Towani Tolotang, dan juga Agama Asli Nusantara lainnya akan dibahas dilain kesempatan ya…

Salamaki‘ (selamat buatmu)

[bisa dijawab : Salamatokki‘ (keselamatan pula denganmu)]

Bagikan