Perempuan Penakluk Nusantara, Tribhuwana Tunggadewi

Sudah tentu kita semua mengetahui tentang Kerajaan Majapahit, yang merupakan salah satu kerajaan termasyur dalam sejarah Nusantara. Kerjaan Majapahit yang berdiri pada tahun 1293M di Jawa Timur ini, mampu menyatukan seluruh kawasan Nusantara di masa kepemimmpinan Raja Hayam Wuruk dengan Mahapatih Gajah Mada.

 

Namun tidak banyak yang tahu bahwa awal dari keberhasilan Majapahit menyatukan Nusantara di mulai ketika Tribhuwana Tunggadewi memimpin Majapahit, yang kala itu Mahapatih Gajah Mada mengumandangkan Sumpah Palapa pada tahun 1334 M, saat upacara pengangkatannya menjadi Patih Amangkubhumi Majapahit (id.wikipedia).

 

Dalam Kitab Pararaton, disebutkan bahwa Sumpah Palapa berbunyi:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tañjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa”.

Terjemahannya:

Dia Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa. Ia Gajah Mada, “Jika telah menundukkan seluruh Nusantara dibawah kekuasaan Majapahit, saya (baru akan) melepaskan puasa. Jika mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa”.

 

Takhta Tribhuwana Tunggadewi sebagai Bakti kepada Sang Ibu

Setelah kematian Raja Jayanegara, yang merupakan anak dari Raja Raden Wijaya, pada tahun 1328 M, Majapahit sempat terguncang karena Raja Jayanagara belum memiliki anak sebagai pengantinya di Majapahit. Setelah polemik terjadi tentang siapa penganti Jayanegara, yang berhak naik tahta adalah Gayatri, yang merupakan salah satu istri Raden Wijaya atau ibu tiri dari Jayanegara. Namun, Gayatri tidak bersedia karena sudah melepaskan ambisi duniawinya dengan menjadi bhiksuni.

 

Karena tidak ada lagi laki-laki dari lingkaran keturunan raja, dan ada dua orang putri yang merupakan anak dari Gayatri yaitu Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat. Maka Gayatri memberi titah kepada putri pertamanya Tribhuwana Tunggadewi sebagai Pemimpin Majapahit (tirto.id).

 

Baca Juga :  Towani Tolotang, Agama Hindu Tanpa Pura di Sidrap

Selama Jayanegara masih hidup, Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyat dilarang menikah, karena Jayanegara takut tahtanya terancam oleh suami-suami adik tirinya itu.

 

 

Tribhuwana Tunggadewi, Raja Perempuan Pertama Majapahit

Demi baktinya kepada sang Ibu, akhirnya Tribhuwana Tunggadewi bersedia dinobatkan menjadi Raja Majapahit pada tahun 1329, dengan gelar Sri Tribuwana Tunggadewi Maharajasa Jayawisnuwardhani (Slamet Muljana, Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya, 1979:135).

 

Kemudian Tribhuwana Tunggadewi yang memiliki nama asli Dyah Gitarja dipanggil dengan sebutan Rajaputri, sebagai istilah membedakan dengan Ratu dalam arti wanita terhormat dalam lingkaran istana.

 

Selanjutnya Tribhuwana Tunggadewi disunting oleh Pangeran Cakradhara atau Kertawardhana, bangsawan muda keturunan raja-raja Singhasari (Th. Pigeaud, Java in the 14th Century: A Study in Cultural History, 2001: 540). Sedangkan Dyah Wiyat kawin dengan pangeran lainnya bernama Kudamerta. Tribhuwana Tunggadewi dengan Cakradhara dikaruniai anak laki-laki bernama Hayam Wuruk. Orang inilah yang kelak menjadi Raja dan membawa Majapahit mencapai puncak keemasannya berkat bimbingan sang Ibu rajaputri.

 

 

Rajaputri, Perempuan Pemersatu Nusantara

Sempat diragukan, namun Rajaputri Tribhuwana Tunggadewi akhirnya membuktikan bahwa dia bukanlah perempuan biasa, yang justru dia membuka gerbang kejayaan bagi Kerajaan Majapahit. Tribhuwana Tunggadewi atas bimbingan ibunya Gayatri, berhasil meletakan dasar-dasar politik kenegaraan kerajaan Majapahit (Purwadi (2007, Sejarah Raja-raja Jawa: Sejarah Kehidupan Kraton dan Perkembangannya di Jawa).

 

Pada tahun 1334, Gajah Mada dilantik sebagai Mahapatih Majapahit, dengan mengumandangkan Sumpah Palapa. Hingga akhirnya era keemasan Tribhuwana Tunggadewi dimulai dengan mempersatukan kawasan Nusantara bersama Gajah Mada, hingga dilanjutkan pada masa anaknya Hayam Wuruk menjadi raja.

 

Pemerintahan Tribhuwana terkenal sebagai masa perluasan wilayah Majapahit ke segala arah sebagai pelaksanaan Sumpah Palapa. Tahun 1343 Majapahit mengalahkan raja Kerajaan Pejeng (Bali), Dalem Bedahulu, dan kemudian seluruh Bali. Tahun 1347 Adityawarman yang masih keturunan Melayu dikirim untuk menaklukkan sisa-sisa Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malayu. Ia kemudian menjadi uparaja (raja bawahan) Majapahit di wilayah Sumatra. Perluasan Majapahit dilanjutkan pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, di mana wilayahnya hingga mencapai Lamuri di ujung barat sampai Wanin di ujung timur (Wikipedia).

 

Baca Juga :  Membumikan kembali Siri’ na Pacce, Filosofi Hidup Bugis – Makassar

 

Tuntasnya Titah Sang Ibunda

Saat sedang memasuki era keemasan, Tribhuwana Tunggadewi justru memutuskan turun tahta pada tahun 1350 M. Keputusan ini diambil karena sang ibunda Gayatri meninggal dunia, sehingga Tribhuwana Tunggadewi menganggap telah tuntas pula perintah sang ibunda ia jalankan.

 

Tribhuwana Tunggadewi diperkirakan turun takhta tahun 1351 (setelah mengeluarkan prasasti Singasari). Ia kemudian kembali menjadi Bhre Kahuripan yang tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga kerajaan. Selanjutnya kepemimpinan Majapahit dilanjutkan oleh putranya Hayam Wuruk.

 

Tidak diketahui dengan pasti kapan tahun kematian Tribhuwana. Pararaton hanya memberitakan ia  meninggal dunia setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371. Menurut Pararaton, Tribhuwanotunggadewi didharmakan dalam Candi Pantarapura yang terletak di desa Panggih.


Demikian kisah Sang Rajaputri, semoga menjadi inspirasi bahwa perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang berjaya, bahkan lebih penting lagi membangun dasar-dasar kejayaan itu sendiri. Salam Rahayu!

Bagikan