Pak De Didi Kempot Teladan Anak Muda Nusantara

Pak De Didi Kempot Teladan Anak Muda Nusantara

Tahun 2020 ini seakan menjadi tahun yang penuh kejutan untuk kita semua, khususnya dunia hiburan tanah air, apalagi ditengah Pandemi Covid-19 yang sedang kita hadapi. Bulan lalu (tepatnya pada 8 April 2020) kita kehilangan sosok kakak Glenn Fredly yang dikenal tidak hanya sebagai penyanyi biasa, tapi kepedulian dan aksi-aksi aktivis sosialnya yang membuat sosok kakak Glenn sangat dicintai.

Kemarin, Selasa 5 Mei 2020 kabar duka kembali berhembus dari dunia hiburan tanah air, yaitu Pak De Didi Kempot dikabarkan meninggal dunia di Solo pada pukul 07:30 WIB. Betapa tidak kehilanggannya kita sebagai penikmat lagu campursari beliau mendengar kabar duka ini. Sontak seluruh media sosial dipenuhi ungkapan duka atas kehilangan Pak De, tidak hanya dari golongan artis, pejabat, bahkan dari seluruh Sobat Ambyar yang didominasi anak muda ini.

Pak De Didi Kempot yang berjuluk The Godfather of Broken Heart meninggalkan kita semua pada saat kita lagi saying-sayangnya. Hampir seluruh lagu campursarinya seakan mengambarkan curahan hati kita dalam hal percintaan. Sehingga tidak heran beliau begitu dicintai oleh anak muda Indonesia.

Pak De yang memiliki nama asli Dionisius Prasetyo (lahir 31 Desember 1966) ini, adalah sosok yang sangat inspiratif buat anak muda Nusantara, selain orangnya yang humble sederhana, pejuang keras, dan juga jiwa sosialnya yang sangat tinggi.

Bagi Indonesia khususnya Jawa, Pak De Didi Kempot adalah kultur dan aset budaya. Bagaimana tidak, Pak De sangat konsisten dengan lagu dan music campur sarinya, bahkan ditengah era modern ini dia mampu menjadi yang terbaik. Pak De juga selalu memegang teguh adat dan budaya Jawa, terlihat dari setiap penampilan beliau, yang saya rasa itu juga terjadi dalam kehidupannya.

Sepanjang kariernya, Pak De telah menciptakan lebih dari 700 lagu yang sebagian lagu yang ditulisnya bertemakan patah hati dan kehilangan, serta menggunakan nama-nama tempat sebagai judul atau lirik lagunya.

Tentu apa yang didapat Pak De saat ini tidak terlepas dari kerja kerasnya. Sebelum dijuluki The Godfather of Broken Heart, Pak De berawal dari musisi jalanan. Nama Kempot adalah akronim dari “Kelompok Penyanyi Trotoar”.

Perjalananya dimulai pertengahan 1980-an, Pak De memutuskan terjun ke dunia musik. Ia mengawali langkahnya di jalanan, dari Yogyakarta sampai Jakarta, sebagai seorang pengamen. Debutnya di kancah campursari ditandai dengan rilisnya nomor We Cen Yu pada akhir 1980-an. Sementara kesuksesan besarnya lahir ketika balada Stasiun Balapan dirilis.

Kerja keras dan konsisten Pak De Didi Kempot mengantarkan dia menjadi idola penikmat musik tanah air bahkan mancanegara, berbagai penghargaan bergengsi telah dia raih. Namun kehidupan sederhananya sebagai masyarakat Jawa tetap dia jalankan dan jiwa social yang selalu dia tunjukan menjadi begitu pedih rasanya kita kehilangan sosok Pak De.

~~~ Kini tidak akan lagi kita melihat penampilan dan mendengarkan lantunan tembang-tembang campursari dinyanyikan langsung di atas panggung oleh Sang Maestro Pak De Didi Kempot. Tapi selain karya beliau yang akan selalu abadi, juga teladan Pak De harus menjadi contoh untuk kita semua, bagaimana konsisten, kerja keras, menjalankan budaya, rendah hati, sederhana, dan kedepankan jiwa social.

“Patah hati ojo ditangisi, tapi dijogeti!” (Didi Kempot)

Selamat Jalan, Sugeng Tindak Pak De Didi Kempot, The Godfather of Broken Heart.

Amor Ring Acintya…

Bagikan
Baca Juga :  Hidup Bagaikan Panggung Pergelaran Dharma