Pentingnya Literasi Digital dan Spiritual pada Era Artificial Intelligence dalam Hindu

Astungkara/Puji syukur kita masih diberikan kesehatan dan kesempatan untuk dapat melaksanakan persembahyangan pada malam hari ini, dan juga menjadi persembahyangan Purnama pertama ya ditahun baru 2026 ini. Jadi sungguh spesial rasanya, tiang diminta membawakan dharma wacana, dan ini juga menjadi program baru PHDI Kota bersama Banjar untuk memberikan pelayanan dharma wacana setiap persembahyangan bersama gelombang kedua ya..

Tentu pada kesempatan ini juga tiang mengucapkan selamat tahun baru 2026, semoga tahun ini menjadi lebih baik bagi kita semua. Pada kemana nih teman-teman merayanan pergantian tahun? Sembahyang dong yaa! Ya mudah-mudahan kegiatan positif ya.

Karena dalam Hindu, setiap momen pergantian waktu adalah saat yang sakral dan penuh berkah, karena waktu dipandang sebagai aspek Tuhan (Kala) yang harus dihormati dan dimanfaatkan dengan bijaksana.

Dalam Atharva Veda 19.54.5

“Kalo asmi loka-saksiv yah, kalasya vyaptam idam jagat.”

“Aku adalah waktu, saksi dunia ini; seluruh alam semesta terliputi oleh waktu.”

Mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan hadir dalam bentuk waktu, sehingga menghormati waktu adalah bagian dari menghormati Tuhan.

Perkembangan teknologi saat ini sudah sangat amat pesat, ditambah lagi dengan kejadian pandemi covid-19 kemarin membuat kita sangat amat merasakan kemajuan teknologi yang begitu cepat, semuanya berubah dalam hitungan waktu yang singkat. Kita pun menjadi sangat aman tergantung dengan kemajuan teknologi itu sendiri ya.

Kemajuan teknologi bukanlah sesuatu yang harus ditolak, melainkan sarana untuk menolong manusia menjalani dharma-nya dengan lebih baik. Namun, seperti pisau bermata dua, teknologi bisa menjadi sumber kemajuan sekaligus kehancuran bila tidak dibingkai oleh kesadaran spiritual.

Mungkin bapak/ibu pernah mendengar istilah ‘Ledakan Nabi Digital’ dan istilah ‘Ritual Menjadi Virtual’ , ini di India sekarang banyak sekali terjadi. Bahkan tidak jauh ke India, di tiktok di facebook banyak sekali kita jumpai umat bahkan, ampure pemuka agama ya, menjalankan ritual keagamaan sambil live, mengejar point tiktok atau fb pro ya.. Tapi mudah-mudahan tidak bertujuan untuk mencari pengakuan, dan tetap fokus pada apa esensi dari ritual yang dilakukan.

Baca Juga :  Saat Pandemi Corona Usai, Ini Perubahan Positif Bumi yang Mesti Dijaga

Sekarang perkembangan artificial intelligence (AI) sangat-sangat sudah masif, padahal perkembangan AI saat ini, itu masih tahap Narrow. Jadi perkembangan AI berdasarkan kemampuannya itu ada beberapa bagian, diantaranya :

Narrow AI (AI Lemah/Weak AI): Dirancang untuk tugas tunggal, contohnya asisten virtual, sistem rekomendasi, pengenalan wajah.

Artificial General Intelligence (AGI/AI Kuat/Strong AI): Kecerdasan setara manusia yang mampu belajar dan menyelesaikan tugas apa pun, masih dalam tahap penelitian.

Super AI: Melampaui kecerdasan manusia, bersifat teoritis dan belum ada.

Nah dengan masif nya perkembangan AI, seperti yang saya katakan tadi bagai pisau bermata dua. Satu sisi sangat membantu kita dalam kehidupan sehari-hari, contohnya menyelesaikan tugas kuliah dll. Pasti banyak ini teman-teman mahasiswa yang mengerjakan tugas dengan chatGPT, atau Gemini. Sekarang sudah banyak platform berbasis AI ya, mau bikin aplikasi ada, mau bikin desain ada, mau apapun ada. Sisi buruknya, mungkin akan membuat kita malas dan ketergantungan pada AI itu sendiri.

Kembali kepada Ritual menjadi Virtual tadi, di India sekarang sudah banyak sekali orang-orang yang menjalankan ritual keagamaan dengan bantuan AI, ada Robot Gajah yang dipuja untuk memberikan berkat, dan lain sebagainya.. Bahkan klw Bapak/Ibu teman-teman bisa cari di internet itu namanya GitaGPT itu bisa ya kita mendapatkan pengetahuan spiritual atau curhat spritual dari intisari ajaran Bhagavad Gita melalui AI Chatbot.

Kenapa pergeseran curhat itu merambah ke dunia AI? Karena AI tidak menghakimi. Ia mudah diakses dan memberikan jawaban bijak di dunia yang bergerak terlalu cepat.

Namun apakah AI selalu benar?

Mesin-mesin AI mungkin hafal kitab suci di luar kepala, tetapi mereka tidak memiliki ‘jiwa’ atau konteks moral. Mereka rentan terhadap apa yang disebut sebagai ‘halusinasi AI’ –sebuah kondisi di mana AI memberikan jawaban yang ngawur namun terdengar sangat meyakinkan.

Baca Juga :  Orang Terkaya di Industri Teknologi Tahun 2020

AI kadang membuat kita sulit membandingkan ini asli atau palsu (sehingga mudah terbawa isu hoks), karena dengan kemudahan AI juga membuat orang yang jahat itu mudah juga melakukan kejahatan.

Sehingga pada kesempatan ini saya mengajak kepada kita semua khususnya teman-teman pemuda, gunakanlah AI itu sebagai alat bantu yang produktif dan positif. Serta barengi diri kita dengan pengetahuan literasi yang baik, sehingga kita bisa memvalidasi sendiri kebenaran akan informasi yang ada.

Dalam kitab Bhagavad Gita, menegaskan pentingnya keseimbangan antara karma (tindakan), Jnana (pengetahuan), dan bhakti (pengabdian). Ketiga jalan ini bisa diterapkan di era digital. Tantangan terbesar bukan hanya menguasai teknologi, melainkan menguasai diri sendiri. Dalam teks suci Upanishad, disebutkan bahwa indra manusia seperti kuda liar yang harus dikendalikan oleh pikiran dan kesadaran.

Itulah mengapa penting untuk kita meningkatkan literasi dalam bidang apapun karena Jnana/pengetahuan merupakan jalan kita dalam mencapai pemahaman yang hakiki. Dan kita tahu cara kerja teknologi, sehingga kita tidak menganggap jawaban dari teknologi chatbot sebagai ‘suara Tuhan’ yang autentik. Penting untuk kita datang ke Pura, bersembahyang, bersimakrama dan memperoleh pelajaran hidup sosial.

Oleh : Nopa Gunawan, Januari 2026

Bagikan